Tampilkan postingan dengan label Sayidiman Suryohadiprojo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sayidiman Suryohadiprojo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

Manusia dan Sistem Sama Penting

Sayidiman Suryohadiprojo

KITA telah memasuki tahun 2014 yang bakal penuh tantangan, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Pada tingkat nasional akan ada pemilu legislatif dan presiden- wakil presiden yang akan berpengaruh besar bagi Indonesia ke depan. Pada tingkat internasional, dinamika politik dan ekonomi di seluruh dunia berdampak tidak sederhana bagi bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, sangat penting bangsa Indonesia hidup dengan sistem yang tepat dan digerakkan oleh manusia yang tepat pula. Kita memerlukan sistem yang tepat agar dapat menentukan pilihan-pilihan sesuai dengan keperluan bangsa dan agar keputusan itu dapat berjalan tepat pula.

Selama kita menentukan dasar negara adalah Pancasila, maka sistem yang harus ada dan berkembang di Indonesia adalah berbagai ketentuan dan aturan hidup yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Adalah satu kebenaran yang tak dapat ditolak bahwa  Pancasila memang menjadi Dasar Negara RI sebagaimana sudah ditetapkan oleh para pendiri negara tahun 1945.

Kehidupan bangsa Indonesia memerlukan Pancasila sebagai dasar negara untuk dapat hidup bahagia, damai, dan sejahtera dalam negara yang merdeka dan berdaulat. Tepat sekali kalau Bung Karno, bapak bangsa Indonesia, menggali Pancasila dari akar-akar kehidupan bangsa.

Dalam kenyataannya, keadaan negara dan bangsa Indonesia sekarang masih jauh dari Pancasila. Oleh sebab itu, perlu sekali ada koreksi atas kehidupan negara dan bangsa agar secepat mungkin dapat ditegakkan sistem yang berlandaskan Pancasila.

Perlu koreksi

Koreksi yang perlu diadakan tidak sedikit dan menyangkut berbagai aspek kehidupan bangsa. Yang paling mendasar adalah koreksi terhadap konstitusi yang sekalipun masih bernama  UUD 1945 telah diamandemen empat kali pada era reformasi sehingga isinya sudah jauh berubah.

Memang ada pihak-pihak di luar negeri dengan dukungan pihak-pihak Indonesia yang mengusahakan agar Indonesia meninggalkan Pancasila. Mereka berhasil melakukannya mulai dari amandemen. Maka, koreksi paling mendasar adalah kaji ulang UUD agar benar-benar menjadi konstitusi negara Pancasila.

Dalam kaji ulang itu terutama  perlu ditinjau kembali posisi lembaga tinggi negara, seperti kembalinya  MPR sebagai lembaga tertinggi negara dengan segala konsekuensinya, seperti menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Selain itu, sistem Pancasila juga perlu mengandung aturan dan ketentuan yang membuat rakyat Indonesia sejahtera. Tidak hanya golongan kecil yang maju dan sejahtera, tetapi juga meliputi seluruh rakyat Indonesia. Ini untuk mengoreksi kondisi sekarang yang dikuasai sikap neoliberalisme sehingga terjadi kesenjangan parah, ditunjukkan oleh faktor Gini lebih dari 40 persen. Ini keadaan yang sudah jauh sekali dari tujuan kemerdekaan.

Koreksi lain yang penting adalah dalam sistem politik agar terwujud demokrasi sesuai Pancasila sehingga sesuai dengan kepentingan rakyat banyak. Saat ini yang ada adalah politik uang dan sarat korupsi.

Agar terjamin masa depan bangsa yang baik harus dijalankan pendidikan bermutu yang menjangkau seluruh masyarakat. Pendidikan akan menghasilkan manusia Indonesia yang  cakap memanfaatkan segala potensi bangsa untuk kesejahteraan.

Namun, membangun sistem yang tepat hanya dapat dilakukan manusia yang memahami kekurangan dan mau serta bisa melakukan koreksi. Orang-orang yang berpidato dengan suara besar saja tidak akan menimbulkan perubahan yang diperlukan.

Maka, tahun menjadi 2014 begitu penting karena akan memilih anggota legislatif dan pemilihan eksekutif. Baik Presiden RI maupun anggota DPR menjadi penentu dimulainya kaji ulang konstitusi serta bagaimana jalannya kaji ulang itu.

Demikian pula perbaikan kesejahteraan rakyat hanya mungkin kalau anggota DPR dan presiden berniat serta bertekad kuat melakukannya.

Dalam hal ini, semua yang amat menentukan adalah Presiden RI yang menjalankan kepemimpinan nasional. Ia pula yang menentukan posisi dan gerak Indonesia dalam dunia internasional. Dapatkah ia menempuh politik luar negeri bebas aktif yang secara efektif menempatkan Indonesia di posisi yang tepat saat persaingan China dan Amerika Serikat makin tajam? Indonesia bisa terbawa-bawa karena lokasinya strategis dan potensi kekayaan alamnya sangat memengaruhi kepentingan China dan AS.

Maka, sistem amat penting dalam kehidupan dan masa depan bangsa kita. Akan tetapi, tak kalah penting adalah manusia yang menciptakan sistem, demikian pula  yang menggerakkan sistem agar bermanfaat.

Namun, ada faktor-faktor yang tak disediakan oleh sistem dan amat bergantung kepada manusia, yaitu niat-tekad-semangat sebagai penentu kejuangan.
Sebagai contoh, tidak ada Pancasila tanpa Bung Karno. Namun, sayangnya, Bung Karno kurang cocok kepribadiannya untuk memperjuangkan Pancasila sampai menjadi sistem dalam living reality di Indonesia. Maka, yang kita perlukan adalah pemimpin bangsa yang kuat niat-tekad-semangat untuk mewujudkannya.

Pemimpin berani

Pemimpin yang baik adalah yang berani mengambil keputusan berdampak  kemajuan, seperti melakukan investasi dalam transportasi massal secara luas, membiayai pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga pendidikan tinggi,  membangun perindustrian yang menjadikan bahan mentah Indonesia produk berharga dengan nilai tambah tinggi, meningkatkan pertanian sehingga Indonesia menjadi pengekspor dan bukan pengimpor beras, kedelai, dan produk pertanian lainnya, serta menjadikan laut sumber kesejahteraan bagi mayoritas bangsa.  

Namun, kita juga memerlukan manusia-manusia lain yang sanggup berkiprah di bidangya dan menghasilkan kemajuan yang penting bagi bangsa. Sekarang kita bangga ada Emirsyah Satar yang menjadikan Garuda Indonesia  dipercaya, Rismaharini sebagai wali kota yang membangun taman-taman indah di Surabaya dan membuat rakyatnya lebih bahagia. Tentu kita ingin prestasi mereka makin meningkat dan mendorong yang lain untuk lebih berprestasi.

Dengan manusia dan sistem yang sesuai Pancasila, Indonesia akan menjadikan rakyatnya maju, sejahtera lahir batin, dan sanggup berperan aktif dalam kesejahteraan umat manusia.

Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas

Rabu, 01 Januari 2014

Kebangsaan Harus Diperjuangkan

Sayidiman Suryohadiprojo

TERBUKTI globalisasi dan segala macam internasionalisme tidak dapat meniadakan eksistensi bangsa dalam kehidupan umat manusia.

Sebab itu, bangsa Indonesia yang lahir dalam Sumpah Pemuda 1928 dan dinyatakan kemerdekaan dan kedaulatannya pada 17 Agustus 1945 harus selalu kita bina eksistensinya melalui perjuangan kebangsaan yang penuh semangat. Kebangsaan Indonesia tidak dapat lepas dari Dasar Negara Pancasila yang juga jati diri bangsa.

Menurut Bung Karno yang menggali Pancasila dari akar kehidupan bangsa, kebangsaan Indonesia harus hidup dan berkembang dalam taman sari internasionalisme. Itu berarti, kebangsaan Indonesia selalu mengusahakan harmoni dengan bangsa-bangsa lain untuk mewujudkan umat manusia yang aman damai dan sejahtera lahir batin.  Kebangsaan Indonesia bukan hendak mendominasi bangsa lain seperti dilakukan, terutama, bangsa-bangsa Barat hingga kini.

Namun untuk mewujudkan harmoni dengan bangsa lain,  bangsa Indonesia harus kuat, maju, dan sejahtera. Bangsa yang lemah, miskin, dan tertinggal akan merangsang bangsa lain menguasainya dan menjajahnya, sebagaimana kita alami di masa lalu. Bangsa Indonesia maju, kuat, dan sejahtera lahir batin dapat terwujud jika bangsa Indonesia sadar akan karunia Allah yang telah diterima berlimpah.   Sumber daya alam yang aneka ragam dan tinggi nilainya, negara kepulauan  antara dua benua dan samudra dengan kelautan luas penuh kekayaan di dalamnya serta daratan yang subur, dan SDM yang berpotensi tinggi serta besar jumlahnya. Karunia Allah ini bukan main pentingnya untuk menjadikan bangsa Indonesia maju, kuat, dan sejahtera. Hingga kini, ini justru lebih dimanfaatkan bangsa lain yang jadi kaya karenanya, sedangkan kita tetap miskin, lemah, dan tertinggal.

Untuk dapat memanfaatkan karunia Allah itu dengan sebaik-baiknya, bangsa Indonesia harus menumbuhkan kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin maju. Ada sementara orang berpendapat untuk dapat menguasai iptek, bangsa kita harus bersikap dan berpikir seperti manusia Barat. Namun, itu berarti meninggalkan jati diri bangsa.

Memang dunia Barat yang telah mengembangkan iptek itu sejak mereka melakukan Renaisans. Renaisans memberikan tempat penting bagi pikiran. Hal itu memungkinkan mereka mengembangkan iptek secara dinamis dan  menghasilkan kemampuan produksi makin maju dalam segala aspek kehidupan. Tercipta berbagai barang kebutuhan hidup, seperti benda, alat serta senjata  yang makin membuat masyarakat Barat sejahtera dan kuat. Akan tetapi, Renaisans juga  mengutamakan tempat dan peran individu dengan kebebasan penuh untuk mencapai apa saja yang dikehendaki, termasuk menjalankan dominasi atas manusia lain serta menjajah bangsa lain. Individualisme dan liberalisme sebagai sikap hidup Barat tidak mengenal harmoni antara individu dan masyarakat.

Nafsu berkuasa

Kebersamaan hanya dianggap perlu kalau ada manfaatnya bagi kepentingan individu. Sikap itu serta alat dan senjata makin maju menjadikan bangsa Barat mendominasi dan menjajah bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, ketika bangsa lain sudah didominasi semua, sedangkan nafsu berkuasa dan sikap agresif makin menguasai mentalitas Barat, bangsa Barat terpaksa mencari sasarannya di sesama bangsa Barat. Maka berkobar Perang Dunia I di antara mereka yang mengakibatkan kematian dan kehancuran besar terhadap Barat sendiri. Setelah perang selesai para pemimpin Barat mau mencegah berulangnya perang, tetapi nafsu berkuasa tak dapat dikendalikan dan hanya 20 tahun setelah Perang Dunia I berakhir, pecah Perang Dunia II. Kematian dan kehancuran lebih besar dan banyak  karena teknologi militer makin berkembang dan puncaknya senjata nuklir berupa bom atom.

Sudah sejak awal abad XX sebetulnya ada pemimpin-pemimpin di  Barat yang mengatakan bahwa sikap hidup masyarakatnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Dengan kenyataan itu kita simpulkan, masa depan yang maju dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia tak mungkin dicapai dengan bersikap Barat. Mungkin segolongan kecil bangsa akan maju dan kaya, tetapi mayoritas rakyat Indonesia akan tetap miskin dan tertinggal. Dan, itulah gambar masyarakat Indonesia kini yang gandrung liberalisme dan mengabaikan Pancasila sebagai jati dirinya.

Padahal, penguasaan iptek tak hanya bisa dicapai dengan bersikap Barat. Bangsa Jepang telah membuktikan itu ketika melakukan Restorasi Meiji untuk menolak usaha Barat  menguasai Jepang. Yang dilakukan Jepang ialah mengembangkan kemampuan berpikir bangsanya untuk �merebut� kemampuan iptek yang dikuasai Barat. Juga membangun kemampuan produksi di segala bidang untuk menjadikan bangsa Jepang makin mampu menyamai kesejahteraan dan kekuatan Barat. Ini dilakukan tanpa meninggalkan jiwa dan semangat Jepang hidup dengan dasar harmoni antara manusia Jepang dan masyarakatnya. Solidaritas kelompok tetap kuat dan membuat Jepang maju dan sejahtera sampai ia membuat kelalaian, mengikuti Barat melakukan penguasaan dan penjajahan bangsa lain.

Maka, bangsa Indonesia pun dengan dasar Pancasila dapat menguasai iptek dan membangun kemampuan produksi dan jasa di segala aspek kehidupan. Untuk itu, harus diberikan tempat penting kepada pikiran untuk menguasai iptek yang makin berkembang maju. Bersamaan dengan itu, kepemimpinan nasional  mengajak seluruh bangsa untuk menguatkan niat, tekad, dan semangat untuk makin mampu memanfaatkan karunia Allah kepada Indonesia. Dan menyadarkan seluruh bangsa, terutama kaum elite, pentingnya Pancasila dan Kebangsaan. Hal itu akan menimbulkan perkembangan dinamis bangsa Indonesia untuk jadi maju, sejahtera, dan kuat.

Sasaran pertama perjuangan itu menciptakan kesejahteraan yang tinggi bagi penduduk Indonesia yang 250 juta dan masih bertambah banyak. Bukan hanya kekayaan  tinggi bagi 10 persen penduduknya sedangkan yang 90 persen miskin, melainkan juga kesejahteraan yang adil merata bagi seluruh bangsa sesuai dasar Pancasila. Hal itu menjadi landasan kuat untuk membangun kemajuan di seluruh aspek kehidupan sehingga tercipta peradaban Indonesia berdasar Pancasila.

Dengan begitu terwujud ketahanan nasional, yaitu kondisi dinamis bangsa Indonesia berupa keuletan dan ketangguhan yang memungkinkan bangsa menjamin survival-nya menghadapi segala macam ancaman, tantangan dan gangguan, serta mewujudkan tujuan nasionalnya. Indonesia  akan makin  mampu menjadi kontributor yang kuat bagi perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Lagu kebangsaan �Indonesia Raya� akan menjadi kenyataan!

Sayidiman Suryohadiprojo,  Mantan Gubernur Lemhannas

Kamis, 19 September 2013

Sikap Teritorial TNI

Sayidiman Suryohadiprojo

TNI Angkatan 1945 memberikan perhatian besar kepada sikap teritorial. Hal itu tergambar dalam isi Sapta Marga yang dirumuskan pada permulaan 1950-an.

Daftar penilaian yang secara teratur dibuat untuk setiap anggota memberikan tempat penting untuk penilaian sikap teritorial dari anggota yang dinilai, khususnya pangkat perwira dan bintara. Hal ini terutama dilakukan dalam TNI AD, tetapi juga tidak diabaikan dalam TNI AL dan TNI AU.

Sikap teritorial dianggap penting sebagai hasil perang kemerdekaan dan menguat setelah beragam pengalaman TNI setelah 1950 serta memperhatikan pengalaman bangsa lain.

Sikap teritorial adalah sikap yang berupa kedekatan tentara dengan rakyat dan masyarakat, terutama di daerah tentara berada. Kedekatan itu mengandung makna kedekatan fisik dan psikis serta berusaha memahami pikiran dan perasaan rakyat, termasuk berbicara dengan rakyat dalam bahasa daerah. Lebih-lebih lagi sikap perbuatan yang mendekatkan diri kepada rakyat.

Dengan memahami dan menunjukkan perhatian kepada rakyat, rakyat pun akan merasa dekat dengan tentara dan cenderung mendukung yang dilakukan dan diperjuangkannya.

Sikap teritorial

Pengalaman membuktikan, hasil sikap teritorial yang baik tidak kalah berarti dibandingkan dengan senjata dan peralatan, bagi pencapaian tugas tentara. Bahkan kalau menghadapi kekuatan militer asing yang menyerang bangsa dan mempunyai keunggulan alutsista, sikap teritorial dapat menetralkan keunggulan musuh. Hal itu terbukti jelas dalam perjuangan kita melawan Belanda dalam perang kemerdekaan, juga dalam perlawanan bangsa Vietnam terhadap tentara AS serta belakangan dalam perlawanan Irak dan Afganistan terhadap AS dan sekutunya.

Terbukti bahwa perlawanan nonfisik terhadap pihak yang memaksakan kehendak dengan kekerasan fisik dan senjata dapat berhasil efektif sehingga pemaksaan kehendak oleh lawan dapat dipatahkan.
Oleh karena itu, TNI Angkatan 1945 sangat memperhatikan perilaku anggota di mana pun berada. Dijaga agar tidak menyakiti perasaan rakyat, sebaliknya malah merebut hati rakyat. Hal itu tampak sekali ketika ada pasukan Siliwangi ditugaskan di Kongo dan menimbulkan keheranan panglima pasukan PBB.
Panglima itu melihat betapa rakyat Kongo tempat pasukan Siliwangi itu bertugas menunjukkan kesukaan dan kesediaan mendukung pelaksanaan tugas pasukan itu. Satu hal yang tidak ditemukan panglima itu pada pasukan-pasukan dari negara lain yang ada dalam komandonya.

Perubahan sikap TNI

Dalam perkembangan waktu dan teknologi yang makin hebat serta pengaruhnya terhadap sikap dan cara berpikir manusia, tampak ada perubahan dalam TNI mengenai pentingnya sikap teritorial. Mungkin para perwira TNI secara intelektual mengerti makna sikap teritorial dan manfaatnya, tetapi karena pengaruh berbagai perkembangan masyarakat, pelaksanaan konkret sikap teritorial sangat kurang.

Perhatian utama telah pindah ke aspek fisik, seperti alutsista, tergoda oleh kekuatan militer tetangga, seperti Singapura dan Malaysia yang memiliki alutsista lebih banyak dan maju. Sudah barang tentu alutsista yang memadai bagi TNI, baik darat, laut, maupun udara, menjadi kewajiban bagi Pemerintah Indonesia. Namun, itu tidak perlu dan tidak boleh mengabaikan aspek yang sama penting berupa sikap teritorial yang membuat TNI dicintai rakyat Indonesia, terutama di daerah-daerah yang menunjukkan adanya keinginan golongan tertentu untuk memisahkan diri dari NKRI.

Peran sikap teritorial TNI amat penting dan bahkan mungkin di daerah tertentu lebih penting dari senjata. Oleh karena itu, perlu sekali TNI tetap memperhatikan adanya harmoni antara kekuatan fisik dan nonfisik untuk dapat mencapai keberhasilan tugas. Tidak hanya dibicarakan sebagai teori dan konsep yang bagus, tetapi terutama penting untuk dilaksanakan, diperbuat.


TNI dengan alutsista yang makin maju dan cukup, disertai pelaksanaan sikap teritorial yang tepat, akan menjadi kekuatan pertahanan yang efektif dan membanggakan.

Sayidiman Suryohadiprojo  Mantan Gubernur Lemhanas