Tampilkan postingan dengan label Jean Couteau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jean Couteau. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2013

Sinterklas dan Mandela

Jean Couteau

Nelson! Saya tidak tahu apakah hal ini merupakan titah para dewata sedunia atau memang dilakukan dengan maksud khusus bagi orang Indonesia. Namun, kini kau, dari alam-Nya nun di sana, kau pasti tahu sebabnya. Kau telah meninggal pada tanggal 5 Desember, justru ketika Sinterklas, yang di Belanda dipercaya hari Sinterklasnya jatuh pada tanggal 6, sudah bersiap-siap turun ke marcapada.

Jadi, ketika arwahmu naik ke surga sana, Sinterklas sebaliknya turun untuk mengunjungi kami. Kalian pasti berpapasan. Seandainya dia seorang diri, pasti kau ber-hello-hello saja sama dia, oleh karena kau tidak lagi berprasangka sama orang kulit putih, kan? Apalagi sekarang kau sudah menjadi ikon dunia, mengangkat kemanusiaan atas segala unsur jati diri lainnya. Tetapi, Nelson, Sinterklas putih berjenggot ini tidaklah turun seorang diri. Dia diantar oleh pembantunya yang hitam, Zwarte Piet (Piet yang Hitam), yang mengangkut barangnya yang berat itu.

Kau hitam, Nelson, si Piet pun hitam. Maka pasti kalian bercakap-cakap di jalan surga. Pasti Piet bercerita bahwa ketika bosnya asyik membagi kado kepada anak-anak yang berperilaku baik, seperti lazim dilakukan menjelang Natal, dia sendiri harus berlagak kasar dan menghukum anak-anak yang dianggap kurang patuh. Ya, Nelson, kamu baru mengerti sekarang: tugasmu belum selesai! Dunia menyanjung kebesaranmu. Namun, belum sempurna: Sinterklas tidak mengerti bahwa dia tidak adil sama pembantunya yang hitam. Dan Zwarte Piet tidaklah tahu dirinya korban dari rasisme. Pikirkanlah hal itu, Nelson, sebelum hanyut dalam kesenangan surga yang menantimu.

Ya! Ketika masih di marcapada kau telah dengan teguh melawan diskriminasi politik, Nelson. Tetapi mudah bila disadari melakukan hal itu, karena terbuka. Lebih sulit melawan rasisme yang hadir diam-diam di dalam benak tanpa kita menyadarinya. Saya pikir bahwa kamu telah bisa membebaskan bangsamu dari kegelapan dan menjadi �Madiba� karena telah berhasil mencabut semua benih rasisme, baik sadar maupun tidak sadar, dari kedalaman hatimu. Maka kami kini perlu bimbinganmu! Kau tahu orang Perancis, Nelson! Sombong dan kerap tak konsisten. Pada ujung abad ke-18, ketika perbudakan masih merajalela, mereka memproklamasikan HAM yang pertama (1789) dan bahkan menerima sebagai warga negara penuh beberapa wakil rakyat dari Afrika. Luar biasa! Namun, baru Napoleon diangkat sebagai kaisar, dia mengesahkan kembali (1802) perbudakan.

Di luar Perancis lebih parah lagi: warna kulit dijadikan dasar diskriminasi hukum mutlak: di Amerika pra-1960-an, Nazi di Jerman, dan tentu saja Afrika Selatan. Nikah antar �ras� tak boleh, maka orang kawin sembunyi-sembunyi saja! Apakah lebih baik sekarang? Mungkin: ada Obama dan macam-macam LSM prokemanusiaan. Namun, di negeri HAM itu pun sendiri, seorang menteri keturunan hitam masih dapat dihujat sebagai �kera�, seperti terjadi baru-baru ini. Perjuangan tidak pernah selesai.

Kau pasti tahu tentang Indonesia, kan, Nelson? Pengaruh Zwarte Piet telah hadir di situ, tepat seperti di negerimu, dan orang Melayunya Capetown tak beda dengan yang ada di Indonesia. Apakah semua itu menjadikan penduduk negeri itu imun dari rasisme. Lebih rumit dari itu, Nelson! Tanyai orang China saja; tanyai sama Londo seperti saya yang kerap ditunjuk oleh orangtua untuk menakut-nakuti anaknya! Yang lucu, masalah itu�yang memang biasanya lunak�tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Seakan-akan prasangka rasis dianggap bagian dari patologi sosial orang bule saja. Namun, ada beberapa hal yang aneh: pihak yang �jahat� di pewayangan selalu raksasa mengerikan yang berkulit hitam. Mirip �Zwarte Piet�, yaitu sama-sama mengusung prasangka yang terpatri dalam memori mitis rakyat. Apakah itu sebabnya wanita yang cantik selalu yang �putih�? Atau sebabnya orang hitam dari Indonesia Timur harus kerap berhadapan, antara lain, dengan guyonan yang �tak enak didengar� , bahkan oleh telinga siapa pun juga, tentang keanehan rambut, kulit, dan bagian tubuh lainnya? Saya tidak tahu. Meskipun begitu, di negeri tropis ini, sekat rasial tak sehebat sekat agama, yang kadang bahkan dipasang oleh menteri ini atau itu�siapa tahu�atas nama kemanusiaan yang berbeda.

Yang jelas, Nelson, bila kau masih asyik berdebat di tengah jalan kau ke surga, boleh saja kau minta Sinterklas yang putih agar kurangi sombong sedikit dan berkenan menjadi pembantu, serta minta Zwarte Piet untuk menuntut persamaan hak. Tetapi lebih-lebih saya mohon, Nelson, agar sesampainya di surga, kau minta kepada para dewata semua agama agar cepat-cepat mengirim orang luhurnya yang dapat membebaskan kami dari prasangka ras, bangsa, suku, kelas, dan terutama agama. Yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Kami tidak perlu lagi kebebasan, Nelson, tetapi persaudaraan. Tolong, Nelson, mintalah kepada para dewata. Selamat jalan dan salam kepada-Nya.

Minggu, 06 Oktober 2013

Jangan Terjebak Impian Global

Jean Couteau  

APEC sekarang dan World Cultural Forum dalam satu setengah bulan nanti. Indonesia dengan bangga menjadi tempat di mana globalisasi didiskusikan, dari sudut ekonomi di dalam hal pertama dan kultural di dalam hal kedua.

Menarik. Memang tak akan habis-habis dibicarakan sebagai fenomena: apakah globalisasi merupakan sarana kemakmuran yang sebenarnya atau sebaliknya akal baru dari kapital internasional untuk menggaruk untung tanpa kendala, melihat betapa murahnya tenaga kerja di emerging economies yang dirangkulnya.

Ya, jangan-jangan exploitation de l�homme par l�homme (eksploitasi dari manusia oleh manusia) yang dulu kala kerap disisipkan oleh Soekarno dalam pidatonya kini menjadi syarat mutlak dari kemakmuran. Namun, suka tidak suka, itulah disiratkan para ekonom ketika berbicara tentang �bonus demografis� yang konon dinikmati bangsa ini: oleh karena manusianya berlimpah dan akan tetap berlimpah, katanya, tenaga kerja Indonesia akan tetap murah. Wah! Ada gula, ada semut!

Di dalam hal ini gulanya adalah manusia kerempeng pinggiran Jakarta, sementara semutnya adalah para investor bermata dingin dari negara antah-berantah. Teorinya adalah bahwa penanaman modal menimbulkan daya beli dan dinamika ekonomi yang dengan sendirinya bakal meluas ke seluruh sektor ekonomi. Ya, begitulah! Meskipun sakit hati mengakuinya, boleh jadi memang demikian halnya: sebagian besar dari taipan-taipan Indonesia yang petentang-petenteng masa kini adalah keturunan dari pedagang kelontongan tahun 1970-an yang telah cukup jeli untuk menarik hikmah dari kebijakan penanaman modal asing yang diterapkan oleh Orde Baru. Menyusul petualangan lihai mereka, jumlah kaum menengah pun telah membeludak sehingga kini para politikus Indonesia tak merasa perlu lagi terlalu menghiraukan nasib para wong cilik kerempeng yang haus kerja, betapa pun rendah gaji bayarannya. Wong cilik itu memang tidak masuk hitungan selain sebagai �biaya produksi�! Biarlah, asal �fundamental� baik, kan?

Tak enak

Semua di atas ini boleh jadi tak enak didengar, tetapi nyata, dan memaksa kita menilik kembali sejarah: dominasi �struktural� dari Amerika atas Indonesia sejak awal rezim Orde Baru telah �dibayar� dengan peningkatan kemakmuran! Untuk memakai bahasa Orde Lama, Nekolim telah menang!! Menyaksikan ini dari dalam makamnya, Soekarno sang idealis pasti dibuat gelisah, di Blitar sana!!! Adapun Soeharto, jangan-jangan dia sebaliknya tertawa, hal yang tak biasa dia lakukan. Apalagi resep-resep Nekolim dan kapitalisme liberal ini telah diikuti di seluruh dunia, sampai ke tanah China nun di sana. Namun, siapa tahu? Mao Tze Tung pun tidak lagi �mesem� mukanya di dalam makam agungnya karena pada akhirnya bisa berbangga menjadi China!

Ya, kapitalisme telah menang. Ia kini telah merasuki semua wilayah dunia, menyusupi semua bidang kehidupan ekonomi dan sosial, menentukan �nilai� semua prestasi�saya tahu sendiri sebagai penulis. Tak perlu disesalkan, tetapi tak perlu pula dielukan. Ia adalah keniscayaan. Ramalan dari mereka yang kalah dan gagal�Marx dan Trotsky�telah menjadi kenyataan: kapitalisme betul-betul bersifat global.

Namun, kita jangan lupa bahwa, bak Janus, kapitalisme senantiasa bermuka dua. Bila ia menghasilkan kekayaan dan memicu kreativitas, ia juga menimbulkan kemiskinan dan melenyapkan kreativitas yang ada. Misalnya, merasa sulit mencari untung di suatu negara karena gaji dianggap tinggi dan pajak terlalu berat, ia dapat seketika berpindah pijakan. Kaum buruh negara industri kini merasakan sinismenya, yang banyak menganggur karena kerjanya telah didelokalisasi entah ke Shanghai atau Chittagong. Jangan-jangan mereka dan kaum tersisih lainnya bereaksi dengan melambaikan bendera apa pun, asal mengerikan.

Dampaknya di dalam hal budaya tak kurang merisaukan. Memang kapitalisme memicu pengetahuan dan, lebih-lebih, dapat menghasilkan manusia �universal� �misalnya, maaf! orang-orang seperti saya yang, lahir di ujung bumi satunya, dapat dengan enteng�dasar bule!�berani ngomongkan situasi budaya di negeri dongeng sepuluh ribu kilometer jauhnya dari tanah leluhurnya. Namun�habis guyon�bak silinder, kapitalisme memang meratakan semua, mereduksi semua pada kode-kode ekonomi dan kultural yang dipegangnya. Lihatlah: kini, mitos-mitos ajaib dari pulau-pulau negeri dongeng Nusantara terancam punah tak berbekas hanya karena dianggap tak fungsional dan bersifat budaya lisan.

Jadi, tak perlu orang Indonesia berbangga menampung APEC dan WCF. Cukuplah mereka memanfaatkannya dengan waspada.

Minggu, 15 September 2013

Bao, Gas Sarin, dan Idealisme

Jean Couteau 

Ketika saya kecil, lebih dari lima puluh tahun yang lalu, layaknya anak orang borju generasi itu, saya mempunyai suatu �nounou�, seorang pengasuh. Pengasuh yang berkeriput itu adalah seorang janda, seorang wanita petani, yang terbelit kemiskinan, dan senantiasa mencari nafkah serta makna hidup dengan mengasuh, dan juga akhirnya mencintai anak-anak kaum borju seperti saya.

Jadi ketika ibu saya berpameran entah di mana dan ayah sibuk entah apa, dialah yang, ketika saya sedih entah kenapa, saya selalu datangi untuk dipeluknya erat-erat. �Anakku,� katanya halus ketika itu. Dialah pula yang beberapa bulan lalu saya datangi makamnya, yang tak bernama nan ketutup rumput, untuk menangis sambil terisak-isak. Saya kini�mungkin terlambat� menyadari dia telah menjadi �ibu� saya tanpa pernah berhak atas panggilan yang luhur itu. Ya, dia yang kala itu saya panggil �Bao� dan kini saya sebut sebagai �Ibu�, di mata orang tiada lain hanyalah seorang pembantu.

Jadi, Bao, pengasuh yang �nista� itu, bagi saya kini melambangkan cinta kasih, dan saya masih mencintainya. Dia juga melambangkan kesadaran atas tiada artinya �jarak sosial� antara Tuan dan Pembantu. Dia membentuk kemanusiaan saya.

Namun mengenang Bao sekarang ini, saya juga mengingat bahwa Bao juga mampu membenci. Siapa yang dibenci wanita luhur itu? Oh, bukan orang dekatnya, bukan pula ayah dan ibu saya, yang dianggap juragan tak terjangkaunya, tetapi mereka yang dia sebut �les Boches�, julukan orang Jerman yang nista itu. Bangsa yang waktu itu merupakan musuh bebuyutan bangsa kami.

Bao memang bukan membenci tanpa alasan pribadi. Sebelum menjadi pengasuh kami, dia selama dua puluh lima tahun telah merawat suaminya yang sakit. Sakit apa? Sakit paru-paru yang diakibatkan gas sarin, seperti di Suriah baru-baru ini. Ya, suami Bao pernah berada di antara ratusan ribu tentara Perancis yang dibom dengan gas pada waktu Perang Dunia II. Ketika, atas perintah �serbu�, para serdadu Perancis keluar dari parit perlindungan. Mereka hendak menembak atau membayonet musuh Jerman yang menanti mereka dua ratus meter jauhnya, kerap kali serbuan itu, berikut teriakannya, tiba-tiba disunyikan oleh kabut yang mematikan. Kesunyian gas. Horor atas horor dari perang. Maka tentara Perancis pun berbalas, dan pada gilirannya menciptakan pula kesunyian horor di antara parit-parit Jerman. Akibatnya, ratusan ribu manusia tewas atas nama nasionalisme yang salah kaprah.

Bao lain

Usai perang, karena banyak Bao-Bao yang lain, berikut teman dan keturunannya, terdengar seruan di negara Perancis, Jerman, dan Amerika: �jangan sampai terjadi lagi�. Maka penggunaan gas dinyatakan haram di medan perang oleh konvensi Geneva tahun 1925. Kenangan pribadi para korban horor di atas horor sejarah Barat telah menjadi dasar ketentuan hukum perang dan bahkan patokan moralitas politik yang konon �internasional�.

Namun itulah justru masalahnya: menjadikan pengalaman horor dari suatu bangsa ataupun suatu perkumpulan bangsa sebagai tolok ukur nilai-nilai �universal�. Kini, Amerika dan Perancis hendak menghukum Bashar al-Assad oleh karena si Bashar dengan menggunakan gas untuk membunuh musuhnya telah menghidupkan kembali kenangan horor pribadi dan kolektif bagi bangsa Perancis dan Amerika.

Tetapi di dalam konstruksi �universalisme� Barat itu di manakah para korban Hiroshima dan Nagasaki, di manakah para pengungsi dari Nakba Palestina, di manakah para korban impian buruk komunis China dan Kamboja, di mana gerangan para korban represi antikomunis di Cile dan Indonesia, di mana pula para korban �Agent Orange� Vietnam, dan akhirnya di mana mereka semua itu dan yang lainnya? Apakah promosi nilai-nilai luhur cukup untuk melahirkan kesadaran atau kebalikannya?

Ya! Kau Obama, dan kau, Hollande, nilai-nilai kau yang konon luhur itu terlalu menggurui bagi kami. Terlalu sering disusul bom yang dijatuhkan entah kenapa. Maka berhentilah berbicara tentang nilai-nilai kau, yang kau yakini dan dirangkul berdasarkan pengalaman kau saja. Dan bukalah hatimu pada apa yang telah menimpa �yang lain� yang tak kau kenal itu. Jangan gegabah untuk maju perang.

Bao yang baik pun tidak lagi membenci orang Jerman setelah dia �tahu�, yaitu setelah dia mengenal janda-janda Jerman yang senasib dengannya. Hati lebih efisien daripada nilai-nilai luhur �universal�, apakah religius ataupun sekuler, yang keduanya cenderung berat sebelah.